Selasa, 27 Juli 2010

Hedging sederhana dalam investasi

Setiap dari kita yang melakukan investasi pasti menginginkan pertumbuhan modal dan hasil bunga yang tinggi. Semakin tinggi hasil yang kita dapat maka semakin baik investasi kita. Tetapi seperti di hal lainnya, resiko tidak dapat dihilangkan, walaupun sebagian dari resiko dapat dihindari. Pengertian sederhana dari hedging adalah upaya untuk mengurangi resiko berinvestasi dengan cara melakukan diversifikasi investasi.

Setiap rencana investasi yang dijalankan akan menghasilkan satu dari empat kemungkinan ini:
  1. Hasil investasi yang baik dan sesuai rencana.
  2. Hasil investasi yang baik tetapi tidak sesuai rencana (bisa lebih baik atau tidak sebaik seperti yang diharapkan).
  3. Hasil investasi yang buruk tetapi masih diperhitungkan di perencanaan.
  4. Hasil investasi yang lebih buruk daripada seperti yang ada di perencanaan.
Dari ke-4 rencana investasi diatas, hasil yang paing diharapkan adalah hasil yang baik dan sesuai rencana. Hasil investasi yang baik tetapi diluar rencana adalah kurang baik (walaupun hasil yang didapat lebih besar dari yang diharapkan), karena ini menandakan rencana yang kurang matang atau ada hal yang kurang diperhatikan/terlupakan. Rencana investasi yang baik adalah rencanya yang mencantumkan hasil yang diinginkan dan resiko yang ditanggung dari investasi tersebut. Tanpa kedua hal itu, sebuah rencana keuangan hanya berdasarkan dari keberuntungan atau tanpa tujuan.

Rencana investasi
Sebelum memilih instrumen investasi, kita sebaiknya menentukan dahulu seberapa besar hasil yang kita inginkan dan seberapa besar resiko yang dapat kita tanggung. Pada umumnya semakin besar hasil investasi yang kita inginkan maka semakin tinggi resiko yang harus kita tanggung. Tingkat resiko tidak selalu sebanding dengan tingkat hasil investasi. Ada investasi yang mempunyai tingkat resiko lebih tinggi daripada tingkat pertumbuhannya, dan ada juga yang sebaliknya. Kita sebaiknya tidak mengambil investasi yang mempunyai tingkat resiko yang lebih tinggi daripada tingkat pertumbuhan. Kita sebaiknya mengambil investasi yang mempunyai tingkat resiko yang lebih rendah dari tingkat pertumbuhan dan tetap berusaha menurunkan tingkat resiko menjadi lebih rendah lagi.

Membatasi resiko tanpa membatasi hasil pertumbuhan investasi
Pembatasan resiko dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pada prinsipnya resiko dibatasi dengan cara kita melakukan investasi di tempat lain yang mempunyai tingkat resiko yang lebih rendah (atau bahkan terbalik) dengan investasi utama kita. Cara yang akan dibahas disini adalah dengan melakukan sebaran investasi di instrumen investasi yang aman dan beresiko. Cara ini jauh lebih mudah dipelajari dan aman walaupun biasanya menghasilkan tingkat investasi yang lebih rendah daripada cara lain.

Investasi 'terproteksi'
Yang dimaksud dengan investasi 'terproteksi' disini adalah menggunakan instrumen dengan resiko rendah seperti deposito, obligasi dan reksa dana pendapatan tetap sebagai instrumen hedging. Investasi yang ingin kita kurangi resikonya dapat berupa valas, saham, atau reksa dana saham.

Untuk mengurangi resiko kita perlu memberikan ukuran hasil dan resiko. Hasil akan kita ukur sebagai nilai H, dan resiko akan kita ukur sebagai nilai R. H dan R dapat berupa persentase atau hasil dalam satuan rupiah dalam satu waktu. Contoh: H = 20%, R = 5% dalam 1 tahun, berarti kita mengharapkan hasil 20% dengan kemungkinan loss sebesar 5% dalam waktu 1 tahun kedepan.

Contoh kasus: kita berencana untuk meningkatkan nilai uang kita Rp. 100,000,000 menjadi Rp. 110,000,000 di tahun depan. Uang kita akan kita gunakan untuk dua hal: (1) melunasi cicilan rumah sebesar Rp. 95,000,000 dan (2) sisanya sebagai biaya liburan. Dengan dua target dan modal sebesar Rp. 100 juta, kita memilih reksa dana (RD) saham dengan pertumbuhan 20% dan 10% maksimum loss per-tahun, dan deposito dengan bunga bersih 5% per-tahun.

Modal Rp. 100 juta kita bagi menjadi dua: Rp. 50 juta dimasukan kedalam RD saham, dan Rp. 50 juta lainnya kita masukan ke deposito. Hasil terbaik dan terburuk dengan skenario diatas adalah:
  • Terbaik: Rp. 50 juta di RD saham mendapatkan bunga full 20% menjadi Rp. 60 juta + Rp. 50 juta di deposito menjadi 52,5 juta. Sehingga kita mendapat hasil Rp. 60 juta + Rp. 52,5 juta = Rp. 112,5 juta.
  • Terburuk: Rp. 50 juta di RD saham mengalami kerugian 10% menjadi Rp. 45 juta + Rp. 50 juta di deposito menjadi 52,5 juta. Sehingga hasil kita adalah Rp. 45 juta + Rp. 52,5 juta = 97,5 juta.
Dengan hasil yang terbaik, kita dapat memproyeksikan tujuan kita mencicil rumah terpenuhi dan mendapatkan dana untuk liburan sebesar Rp. 17,5 juta. Sebaliknya dengan hasil yang terburuk kita tetap dapat mencicil rumah dan tetap mendapatkan dana liburan sebesar Rp. 2,5 juta.

Bayangkan bila kita memasukan Rp. 100 juta ke RD saham tanpa hedging. Hasil terbaik yang bisa kita dapatkan adalah Rp. 120 juta. Tetapi kita dapat mengalami kerugian yang hanya menyisakan dana kita menjadi Rp. 90 juta. Dari sini kita dapat melihat bahwa dengan skenario tanpa hedging terbaik vs. skenario dengan hedging terburuk terjadi opportunity cost (perbedaan nilai dari yang seharusnya bisa didapatkan) sebesar Rp. 120 juta - Rp. 97,5 juta = Rp. 24,5 juta. Demikian pula dengan skenario tanpa hedging terburuk vs. dengan hedging terburuk kita mendapat Rp. 90 juta - Rp. 97,5 juta = - Rp. 7,5 juta. Walaupun skenario tanpa hedging menjanjikan kita keuntungan Rp. 24,5 juta lebih besar daripada skenario dengan hedging, skenario tanpa hedging juga menghadapkan kita dengan kemungkinan rugi sebesar Rp. 7,5 juta dibandingkan dengan skenario dengan hedging.

Perbedaan utama dari penggunaan hedging bukan hanya terletak pada nilai, melainkan pada tujuan yang dicapai. Dari contoh diatas terlihat bahwa rencana investasi dengan hedging, walaupun tidak bisa mencapai potensi hasil sebesar investasi tanpa hedging, pasti membawa kita ke tujuan kita yaitu membayar cicilan rumah dan liburan. Tetapi sebaliknya justru investasi tanpa hedging, walaupun berpotensi memperoleh hasil yang lebih besar dibandingkan dengan investasi dengan hedging, dapat menyebabkan rusaknya rencana kita yaitu: tidak dapat membayar full cicilan rumah dan tidak dapat liburan sama sekali.

Demikianlah mengapa kita perlu mempertimbangkan hedging pada rencana investasi kita. Terutama apabila pengetahuan kita mengenai investasi masih belum cukup dan/atau uang yang kita investasikan akan kita gunakan untuk sesuatu yang penting.

Selamat berinvestasi :)
Yustinus Eko Soelistio

Bila anda membutuhkan bantuan untuk berinvestasi dapat menghubungi saya di yustinus.soelistio@gmail.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar